1. Skip to Main Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
Last Updated:Friday 25 April 2014, 06:27

Sumber - sumber Zakat

PDFPrintE-mail

Jenis-jenis harta yang menjadi sumber zakat  yang dikemukakan secara terperinci dalam Al-quran dan hadis, pada dasarnya ada empat jenis yaitu; tanaman, buahan, hewan ternak, emas dan perak, serta harta perdagangan. (Didin Hafifuddin, 2002: 28)

Perkembangan zakat kontemporer dapat dicermati melalui:

  1. Sektor-sektor perekonomian modern yang sangat potensial

1)      Sektor pertanian (5 arti penting pertanian)

  • Sumber pokok mata pencaharian
  • Sumber persediaan pangan
  • Pasar pokok industri
  • Sumber pendapatan dalam perdagaqngan luar negeri
  • Sumber daya bagi sektor-sektor ekonomi lainnya. (Sicat dan Ardnt, 1991: 3)

2)      Sektor industri

3)      Jasa

  1. Sektor-sektor ekonomi modern

-          Zakat profesi

-          Zakat perusahaan

-          Zakat surat-surat berharga dan obligasi

-          Zakat perdagangan mata uang

-          Zakat hewan ternak yang diperdagangkan

-          Zakat madu dan produk hewani

-          Zakat investasi

-          Zakat asuransi

-          Zakat usaha modern seperti tanaman anggrek, ikan hias dan sebagainya.

  1. Zakat sektor rumah tangga modern.[1]

Qardawi (h. 167-501) secara sistematis mengelompokan dan menguraikan sembilan jenis zakat diluar zakat fitrah, yaitu;

  1. binatang ternak
  2. emas dan perak
  3. kekayaan dagang
  4. pertanian
  5. madu dan produksi hewani
  6. barang tambang dan hasil laut
  7. investasi pabrik
  8. pencarian dan profesi
  9. saham dan obligasi

Begitu pula Didin Hafidhuddin (122-56) menguraikan sumber-sumber zakat:

  1. Professi
  2. Perusahaan
  3. Surat-surat berharga
  4. Perdagangan Mata Uang
  5. Hewan Ternak yang diperdagangkan
  6. Madu dan Produk Hewani
  7. Investasi Property
  8. Asuransi Takaful
  9. Usaha Tanaman Anggrek, Sarang Burung Walet, Ikan Hias dan Sekor Modern yang sejenis

10.  Sektor Rumah Tangga Modern

Objek zakat menurut Qardawi dan Didin ini nampaknya ditentang keras oleh Abdul Rahman Al-Jazairi, bahwa objek zakat yang boleh hanyalah; ternak, emas dan perak, perdagangan, barang tambang dan rikaz dan pertanian. ”Tidak ada zakat diluar yang lima ini.” [2]

Zakat Binatang Ternak

Binatang ternak yang wajib dizakatkan adalah unta, sapi, kerbau dan kambing. Kenapa diwajibkan zakat kepada tiga jenis ternak tersebut dantidak diwajibkan kepada jenis ternak yang lain?. Berkaitan dengan hal ini Ibrahim Muhammad Al-Jamal (1986:185) mengatakan bahwa waib zakat atas ketiga binatang ternak tersebut dikarenakan hal itu telah menjadi kesepakatan ulama (ijma’). Dan kenapa hanya tiga jenis ternak saja yang di wajibkan zakat? Alasannya karena inatang ternak ini populasinya cukup banyak, dan mampu berkembang biak dengan pesat. Dan juga pada asalnya tidak ada kewaiban atas ternak yang lain.

Zakat biji makanan dan buah-buahan

Tanaman biji-bijian yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah biji-bijian yang mengenyangkan. Begitu juga dengan buah-buahan. Yang dimaksud dengan buah-buahan ialah kurma dan anggur.

Besarnya nisab dan zakat biji dan buah-buahan adalah berdasarkan hadist Rasulullah Saw berikut ini:

لَيْسَ فِىْ حَبٍّ وَلاَتَمَرٍ صَدَقَةٌ حَتَّى يَبْلُغَ خَمْسَةَ اَوْسُقٍ.

Artinya: “Jabir telah menceritakan hadist berikut yang ia terima langsung dari Nabi Saw yang telah bersabda: Pada biji yang diairi dengan air sungai dan hujan, zakatnya seper sepuluh, dan yang diairi dengan kincir yang ditarik binatang, seperdua puluh.” (HR Ahmad, Muslim dan Nasai).

Zakat emas dan perak

Emas dan perak wajib dizakati, sedang barang tambang yang lain tidak wajib dizakatkan. Dasar dari kewajiban mengeluarkan zakat emas dan perak adalah firman Allah dalam Al-Qur’an dan hadist-hadist berikut:

“yang Artinya: Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (At-Taubah: 34)

Hadist: Rasulullah Saw

عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَدْعَفَوْتُ لَكُمْ عَنْ صَدَقَةِ الْخَيْلِ وَالرَّقِيْقِ فَهَاتُوْا صَدَقَةَ الرِّقَةِ مِنْ كُلِّ اَرْبَعِيْنَ دِرْهَمًا دِرْهَمًا وَلَيْسَ فِى تِسْعِيْنَ وَمِائَةٍ شَيْءٌ فَإِذَا بَلَغَتْ مِائَتَيْنِ فَفِيْهَا خَمْسَةُ دَرَاهِمَ.

Artinya: “ Dari Ali ‘Alaihi Salam berkata: sabda Rasulullah saw: “aku tidak memungut dari kamu sekalian zakat kuda dan budak. Maka berikanlah zakat perak, dari setiap 40 dirham, 1 dirham. Tidak ada kewajiban apa-apa perak hanya 190 dirham. Tapi bila telah mencapai 200 dirham, aka zakatnya 5 dirham. (H.R Ahmad, Abu Daud dan Tirmizi)

Firman Allah dan Hadist Nabi Saw diatas memuat dalil tentang kewajiban membayar zakat emas dan perak.dan menjelaskan juga tentang berapanisab dan besarnya zakat emas dan perak yang harus dikeluarkan.

Zakat hasil Tambang

Menurut pengertian ulama dari mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali, hasil tambang ialah: harta yang diciptakan Allah yang ada dalam bumi, baik berupa emas, perak atau timah, kuningan atau belerang dan lain-lain sebagainya,seperti Kristal, batu akik dan minyaktanah. Sedangkan menurut ulama dari mazhab Syafe’i harta tambang itu hanya emas dan perak saja (Syaikh Hasan Ayyub,2006:548)

Hasil tambang wajib dikeluarkan zakatnya, apabila sudah tidak cukup satu nisab dan tidak disyaratkan cukup satu tahun. Berdasarkan hadist Nabi Saw:

أَنَّ رَسُوْلَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ اَخَذَ مِنَ الْمَعَاذِنِ الْقَبَلِيَّةِ الصَّدَقَةَ

Artinya: “Bahwasanya Rasulullah Saw, pernah mengambil sadaqah (zakat) dari hasil tambang di negeri Qibliyah” (HRAbu Daud dan Hakim)

Zakat Harta Perniagaan / Dagangan

Harta perniagaan atau dagang adalah semua benda yang dapat diperdagangkan dan sipemilik dagangan berniat untuk berniaga. Harta perniagaan wajib dizakatkan apabila telah cukup satu nisab. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

عَنْ سُمْرَةَ كَانَ رَسُوْلُ اللّه صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَامُرُنَا اَنْ نُغْرِجَ الصَّدَقَةَ فه لَذِى نُعِدُّهُ لِلْبَيْع

Artinya: “Dari Samurah, : Rasulullah memerintahkan kepada kami agar mengeluarkan zakat barang yang disediakan untuk dijual” (HR Daruqutni dan Abu Daud)

Semua harta dianggap harta dagangan apabila secara nyata diperdagangakan atau dibeli untuk diperdagangkan (Syaikh Hassan Ayyub : 2006:526)[3]

Sumber zakat

a)      Hasil tumbuh-tumbuhan atau tanaman yang bernilai ekonomis, seperti misalnya; anggrek, rambutan, durian, papaya dan sebagainya.

b)      Hasil peternakan dan perikanan, seperti misalnya; ayam, hasil empang, hasil laut dan sebagainya.

c)      Harta kekayaan dalam semua bentuk badan usaha, baik yang dimiliki oleh perorangan maupun bersama-sama dengan orang lain.

d)     Hasil penyewaan dan pengontrakan rumah, bangunan, tanah, kendaraan dan sebagainya.

e)      Pendapatan yang diperoleh dari sumber lain.[4]

Objek zakat berbeda dengan objek pajak dalam satuan hukumnya. Objek atau mal zakat yang selalu dinisbatkan berdasarkan Al-quran dan hadis baru sebatas hukum Isklam dan Fiqh yang ada dalam pikiran utama, belum dituangkan dalam Undang- Undang seperti objek pajak.[5]

Pengunjung Online

We have 37 guests online

Kolom Iklan